Application Layer
a. DNS
(Domain Name System)
Domain Name System (DNS) adalah sistem yang menyimpan
informasi tentang nama host maupun nama domain dalam bentuk basis data tersebar
(distributed database) di dalam jaringan komputer, misalkan: Internet.. Selain digunakan di Internet, DNS
juga dapat di implementasikan ke private network atau intranet dimana DNS
memiliki keunggulan seperti:
- Mudah, DNS sangat mudah karena user tidak lagi direpotkan untuk mengingat IP address sebuah komputer cukup host name (nama Komputer).
- Konsisten, IP address sebuah komputer bisa berubah tapi host name tidak berubah.
- Simple, user hanya menggunakan
satu nama domain untuk mencari baik di Internet
maupun di Intranet.
4.
Unlimited Database Size, Dibanding HOSTS files, DNS
dapat menampung jauh lebih banyak database alamat IP yang tentunya
didistribusikan kepada beberapa organisasi yang berwenangdalam penanganan
alamat tersebut.
- Memiliki performance yang baik daripada HOSTS files.
DNS
dapat disamakan fungsinya dengan buku telepon. Dimana setiap komputer di
jaringan Internet memiliki host name (nama komputer) dan Internet Protocol (IP)
address. Secara umum, setiap client yang akan mengkoneksikan komputer yang satu
ke komputer yang lain, akan menggunakan host name. Lalu komputer anda akan menghubungi
DNS server untuk mencek host name yang anda minta tersebut berapa IP
address-nya. IP address ini yang digunakan untuk mengkoneksikan komputer anda
dengan komputer lainnya.
DNS memiliki kelemahan yaitu tidak bisa membuat
banyak nama domain.
Hierarkis DNS
Komponen Domain Name System disebut Domain Name Space
merupakan sebuah hirarki pengelompokan domain berdasarkan nama yang terbagi
menjadi beberapa bagian, diantaranya:
1. Root-Level Domains
Domain ditentukan berdasarkan
tingkatan kemampuan yang ada di struktur hirarki yang disebut dengan level.
Level paling atas di hirarki disebut dengan root domain. Root domain
diekspresikan berdasarkan periode dimana lambang untuk root domain adalah
(“.”).
2. Top-Level Domains
Pada bagian di bawah ini adalah contoh
dari top-level domains:
- .edu – digunakan untuk lembaga pendidikan (sekolah tinggi maupun universitas).
- .gov – digunakan untuk lembaga pemerintahan versi Amerika Serikat.
- .com – digunakan untuk perusahaan / organisasi komersil.
- .int – digunakan untuk organisasi bersifat internasional.
- .mil – digunakan oleh badan militer Amerika Serikat.
- .net – biasa digunakan oleh layanan ISP (penyedia jasa internet).
- .org – untuk organisasi nonprofit.
- .info – untuk website yang menyajikan informasi praktis.
- .tv dan .fm – untuk website jasa broadcast (stasiun televisi dan radio).
- .name – untuk personal website.
3. Second Level Domains
Second-level domains dapat berisi
host dan domain lain yang disebut dengan subdomain. Untuk contoh: Domain
Bujangan, bujangan.com terdapat komputer (host) seperti server1.bujangan.com
juga terdapat komputer (host) seperti client1.training.bujangan.com.
4. Host Names
Domain name yang digunakan dengan
host name akan menciptakan fully qualified domain name (FQDN) untuk setiap
komputer. Sebagai contoh, jika terdapat fileserver1.detik.com dimana
fileserver1 adalah host name dan detik adalah domain name.
b.
Sejarah
DNS
Pada tahun 1970an jaringan ARPAnet hanya terdiri dari
beberapa ratus host saja. Pada waktu itu, sebuah file HOSTS.TXT
yang berisi tentang semua informasi host-hosts tersebut masih bisa
melayani setiap permintaan query dan menerjemahkan nama ke alamat IP (name-to-address-mapping).Pada
sistem operasi berbasis UNIX, file /etc/hosts merupakan hasil
dari pengolahan file HOSTS.TXT tersebut. File HOSTS.TXT pada
waktu itu dikelola oleh Stanford Research Insitute Network Information Center (SRI-NIC)
di Menlo Park, California. File tersebut tersebut didistribusikan ke semua host
dan penggunanya hanya dengan menggunakan satu buah host (mesin/komputer)
saja. Petugas administrasi dari ARPAnetbiasanya mengirimkan email kepada
SRI-NIC tentang perubahan (termasuk penambahan maupun pengurangan)
tentang informasi suatu host, dan dalam periode tertentu, mereka
melakukan transfer file HOSTS.TXT yang paling baru (biasanya
diperbaharui sekali dalam seminggu) dengan menggunakan protokol ftp. Seiring
dengan berkembangnya jaringan ARPAnetdan penggunaan protokol TCP/IP, ukuran
dari file HOSTS.TXT menjadi besar dengan bertambahnya jumlah host yang
bergabung dengan jaringan ARPAnet. Kemudian timbul beberapa masalah
dengan penggunaan file HOSTS.TXT ini, misalnya :
- Trafik dan Beban (Traffic and load)
Beban mesin dan trafik (bandwith) di SRI-NIC
dalam mendistribusikan file menjadi lebih berat dan besar
- Penamaan yang saling bentrok (name collisions)
Pada file HOSTS.TXT tidak diperkenankan adanya dua
buah nama host yang sama. Namun pada prakteknya, tidak ada cara untuk
mencegah seseorang untuk menambahkan nama yang sama sehingga kemungkinan bisa
menjadi bentrok dan pada akhirnya merusak skema yang telah ada
- Keaslian (consistency)
Mengelola keaslian dan keutuhan sebuah file antar beberapa
jaringan yang sedang berkembang pesat merupakan sesuatu hal yang sulit
dilakukan
Berangkat dari masalah-masalah tersebut diatas, ARPAnet
membentuk suatu sistem alternatif pengganti dari sistem lama yang menggunakan
file HOSTS.TXT. Tujuannya adalah untuk memecahkan masalah dalam
pengelolaan tabel host yang sangat beraneka ragam dan masih menggunakan
metode sentralisasi. Pada sistem yang baru, seorang sistem administrator
memungkinkan untuk mengelola data secara loka, namun akan selalu update secara
global di internet. Sistem yang menggunakan metode desentralisasi ini
diharapkan akan mengurangi beban dan trafik, serta pengelolaan data dan proses
update dari sebuah informasi akan menjadi lebih mudah.
Paul Mockapertis dari University of Southern California
Information Science Institute di Marina del Rey, California, dipilih sebagai
orang yang bertanggung jawab terhadap rancangan, desain, arsitektur dan
implementasi dari sistem pengelolaan data host yang baru. Pada tahun
1984 beliau merilis RFC (Request For Comment) 882 dan RFC 883
yang menjelaskan tentang Domain Name System (DNS). Kemudian disusul
dengan RFC 1034 dan RFC 1035 yang juga menambahkan tentang masalah
kemanan DNS, penerapan (implementasi), pengelolaan (adminstrative),mekanisme
pembaharuan data secara dinamis, serta kemanan data dalam sebuah domain dan
lain-lainnya.
c.
Diagram
DNS
Dimisalkan
ada client yang menanyakan "berapa alamat ip dari www.unsri.ac.id
?" Pertanyaan ini dilemparkan ke
DNS server lokal. Dengan segera DNS server lokal memeriksa databasenya.
Kemudian ternyata www.unsri.ac.id
tidak terdapat didalam databasenya. Lalu ia memeriksa cache. Bila ada, jawaban
lansung diberikan ke client. Tapi bila tidak ada, maka ia akan mencari jawabannya
ke root DNS. Root DNS pasti mempunyai database yang dimaksud dan memberikannya
ke DNS server local dan pada akhirnya diberikan ke client tadi.
d.
Record-Record
dalam DNS
Beberapa
jenis-jenis record yang paling umum di dalam DNS adalah sebagai berikut:
- A record atau catatan alamat memetakan sebuah nama host ke alamat IP 32-bit (untuk IPv4).
- AAAA record atau catatan alamat IPv6 memetakan sebuah nama host ke alamat IP 128-bit (untuk IPv6).
- CNAME record atau catatan nama kanonik membuat alias untuk nama domain. Domain yang di-alias-kan memiliki seluruh subdomain dan rekod DNS seperti aslinya. Praktek yang paling sering digunakan pada CNAME ini adalah jika anda menginginkan blog dari layanan pihak ketiga (misalnya blog dari layanan blogspot.com) dengan nama domain sendiri. Pada kolom "Alamat" untuk jenis record ini harus diakhiri dengan tanda [.] titik.
- MX record atau catatan pertukaran surat memetakan sebuah nama domain ke dalam daftar mail exchange server untuk domain tersebut.
- PTR record atau catatan penunjuk memetakan sebuah nama host ke nama kanonik untuk host tersebut. Pembuatan rekod PTR untuk sebuah nama host di dalam domain in-addr.arpa yang mewakili sebuah alamat IP menerapkan pencarian balik DNS (reverse DNS lookup) untuk alamat tersebut. Contohnya (saat penulisan / penerjemahan artikel ini), www.icann.net memiliki alamat IP 192.0.34.164, tetapi sebuah rekod PTR memetakan ,,164.34.0.192.in-addr.arpa ke nama kanoniknya: referrals.icann.org.
- NS record atau catatan server nama memetakan sebuah nama domain ke dalam satu daftar dari server DNS untuk domain tersebut. Pewakilan bergantung kepada rekod NS.
- SOA record atau catatan otoritas awal (Start of Authority) mengacu server DNS yang mengediakan otorisasi informasi tentang sebuah domain Internet.
- SRV record adalah catatan lokasi secara umum.
- URL
Redirect,
merupakan metode standar yang digunakan dalam URL Forwarding (pengalihan
URL). Jika ada pengunjung yang masuk ke alamat subdomain anda yang
berjenis ini, maka pengunjung tersebut akan dialihkan ke alamat yang anda
tentukan pada kolom "Alamat". Bagian pada kolom
"Alamat" bisa anda isi dengan halaman web kemana akan diarahkan,
dan harus diisi dengan alamat lengkapnya, misalnya
"http://www.google.co.id/search?q=url+forwarding&ie=utf-8&hl=id&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a".
Kelemahan metode ini adalah pada baris alamat broser ditampilkan alamat tujuannya, pengunjung akan bisa melihat alamat sebenarnya ke mana subdomain anda ini diarahkan. - URL Frame, berfungsi sama seperti URL Redirect, tetapi halaman akan disajikan dengan frame (sering juga disebut URL cloaking) sehingga pada baris alamat browser akan ditampilkan alamat dengan domain anda.
- SPF (txt), digunakan untuk mengisi informasi teks pada domain anda. Anda bisa mengisi apa saja dengan record jenis ini. Pada kolom "Alamat" isi teks yang anda inginkan dengan ditutup oleh tanda kutip (") di awal dan di akhirnya. Praktek yang paling sering adalah menggunakan record ini untuk menentukan SPF record atau DomainKeys. Untuk informasi lebih lanjut tentang SPF Record dan cara pengisiannya, anda bisa mengunjungi situs OpenSPF.
Pengeditan record DNS bisa dilakukan
dengan mengubah langsung pada datanya (pada record yang ingin anda
edit).Sedangkan untuk menghapus DNS record yang sudah anda, hapus saja DNS
record yang sudah terisi lalu klik tombol "Simpan".
- Name Server
Name Server berfungsi untuk menjelaskan
server DNS mana saja yang bertanggung jawab untuk suatu nama domain.Terdiri
dari 2 jenis name server :
Primary
name server
Primary name server adalah DNS server
yang bertanggung jawab atas kinerja domain dan subdomain yang dikelola. Pemegang
daftar lengkap dari sebuah domain yang dikelolanya. Server ini memegang
otoritas penuh atas domainnya. Misalkan
server ns1.itb.ac.id memegang otoritas penuh atas domain *.itb.ac.id. Otoritas
penuh di sini berarti server ini yang bertanggung jawab untuk ditanyai
nama-nama host berdomain itb.ac.id dan sub-sub domain dibawahnya. Selain itu
hanya server ini yang dapat membuat sub-domain di bawah itb.ac.id. Mendapatkan data dengan membaca file di storage
.
Lebih dikenal dengan File Zone
Secondary
name server
Secondary name server adalah DNS server
yang secara hierarki sepadan dengan Primary name server, namun data-data domain
dan subdomain diperoleh dengan menyalin dari Primary name server. Server ini
adalah backup dari primary server. Sama seperti primary, secondary juga memuat
daftar lengkap sebuah domain. Hubungan antara primay dan secondary ini kurang
lebih seperti mirror. Bila ada perubahan di primary server, secondary terus
mengikutinya secara periodik. Oleh karena itu, secondary memerlukan izin dari
primary untuk melakukan sinkronisasi ini. Sinkronisasi ini lazimnya disebut
sebagai zona transfer. Secondary diperlukan sebagai backup bila Primary crash
atau sibuk dan untuk mempermudah pendelegasian.
Perbedaan utama dari primary
name server dan secondary name server adalah semua data mengenai domain dan
translasi address tersimpan di primary name server, sedangkan secondary name
server menggunakan data yang tersimpan di primary name server tersebut
Teori bekerja DNS
Para Pemain Inti
Pengelola dari sistem DNS terdiri
dari tiga komponen:
§ DNS resolver, sebuah program klien yang berjalan
di komputer pengguna, yang membuat permintaan DNS dari program aplikasi.
§ recursive DNS server, yang melakukan pencarian melalui
DNS sebagai tanggapan permintaan dari resolver, dan mengembalikan
jawaban kepada para resolver tersebut;
§ authoritative DNS server yang memberikan jawaban terhadap
permintaan dari recursor, baik dalam bentuk sebuah jawaban, maupun dalam
bentuk delegasi (misalkan: mereferensikan ke authoritative DNS server
lainnya)
Pengertian beberapa bagian dari nama
domain
Sebuah nama domain
biasanya terdiri dari dua bagian atau lebih (secara teknis disebut label),
dipisahkan dengan titik.
§ Label paling kanan menyatakan top-level
domain - domain tingkat atas/tinggi (misalkan, alamat
www.wikipedia.org memiliki top-level domain org).
§ Setiap label di sebelah kirinya
menyatakan sebuah sub-divisi atau subdomain
dari domain yang lebih tinggi. Catatan: "subdomain" menyatakan
ketergantungan relatif, bukan absolut. Contoh: wikipedia.org merupakan
subdomain dari domain org, dan id.wikipedia.org dapat membentuk subdomain dari
domain wikipedia.org. Secara teori, pembagian seperti ini dapat mencapai
kedalaman 127 level, dan setiap label dapat terbentuk sampai dengan 63
karakter, selama total nama domain tidak melebihi panjang 255 karakter. Tetapi
secara praktik, beberapa pendaftar nama domain (domain
name registry) memiliki batas yang lebih sedikit.
§ Bagian paling kiri dari bagian nama
domain (biasanya) menyatakan nama host. Sisa dari nama domain menyatakan cara
untuk membangun jalur logis untuk informasi yang dibutuhkan; nama host adalah
tujuan sebenarnya dari nama sistem yang dicari alamat IP-nya. Contoh: nama
domain www.wikipedia.org memiliki nama host "www".
DNS memiliki kumpulan hierarki dari DNS servers. Setiap domain atau
subdomain memiliki satu atau lebih authoritative
DNS Servers (server DNS otorisatif) yang mempublikasikan informasi
tentang domain tersebut dan nama-nama server dari setiap domain
di-"bawah"-nya. Pada puncak hirarki, terdapat root servers- induk
server nama: server yang ditanyakan ketika mencari (menyelesaikan/resolving) dari sebuah nama domain tertinggi
(top-level domain).
Sebuah contoh dari teori rekursif
DNS
Sebuah contoh mungkin dapat
memperjelas proses ini. Andaikan ada aplikasi yang memerlukan pencarian alamat
IP dari www.wikipedia.org. Aplikasi tersebut bertanya ke DNS recursor
lokal.
§ Sebelum dimulai, recursor
harus mengetahui dimana dapat menemukan root nameserver; administrator
dari recursive DNS server secara manual mengatur (dan melakukan update
secara berkala) sebuah file dengan nama root
hints zone (panduan akar
DNS) yang menyatakan alamat-alamt IP dari para server tersebut.
§ Proses dimulai oleh recursor
yang bertanya kepada para root server tersebut - misalkan: server dengan
alamat IP "198.41.0.4" - pertanyaan "apakah alamat IP dari
www.wikipedia.org?"
§ Root server menjawab dengan sebuah delegasi, arti kasarnya: "Saya
tidak tahu alamat IP dari www.wikipedia.org, tapi saya "tahu" bahwa
server DNS di 204.74.112.1 memiliki informasi tentang domain org."
§ Recursor DNS lokal kemudian bertanya kepada
server DNS (yaitu: 204.74.112.1) pertanyaan yang sama seperti yang diberikan
kepada root server. "apa alamat IP dari www.wikipedia.org?".
(umumnya) akan didapatkan jawaban yang sejenis, "saya tidak tahu alamat
dari www.wikipedia.org, tapi saya "tahu" bahwa server 207.142.131.234
memiliki informasi dari domain wikipedia.org."
§ Akhirnya, pertanyaan beralih kepada
server DNS ketiga (207.142.131.234), yang menjawab dengan alamat IP yang
dibutuhkan.
Proses ini menggunakan pencarian rekursif (recursion
/ recursive searching).
Pengertian pendaftaran domain dan glue
records
Membaca contoh di atas, Anda mungkin
bertanya: "bagaimana caranya DNS server 204.74.112.1 tahu alamat IP mana
yang diberikan untuk domain wikipedia.org?" Pada awal proses, kita
mencatat bahwa sebuah DNS recursor memiliki alamat IP dari para root
server yang (kurang-lebih) didata secara explisit (hard coded).
Mirip dengan hal tersebut, server nama (name server) yang otoritatif
untuk top-level domain mengalami perubahan yang jarang.
Namun, server nama yang memberikan
jawaban otorisatif bagi nama domain yang umum mengalami perubahan yang cukup
sering. Sebagai bagian dari proses pendaftaran sebuah nama domain (dan beberapa
waktu sesudahnya), pendaftar memberikan pendaftaran dengan server nama yang
akan mengotorisasikan nama domain tersebut; maka ketika mendaftar
wikipedia.org, domain tersebut terhubung dengan server nama gunther.bomis.com
dan zwinger.wikipedia.org di pendaftar .org. Kemudian, dari contoh di atas,
ketika server dikenali sebagai 204.74.112.1 menerima sebuah permintaan, DNS
server memindai daftar domain yang ada, mencari wikipedia.org, dan
mengembalikan server nama yang terhubung dengan domain tersebut.
Biasanya, server nama muncul
berdasarkan urutan nama, selain berdasarkan alamat IP. Hal ini menimbulkan string
lain dari permintaan DNS untuk menyelesaikan nama dari server nama; ketika
sebuah alamat IP dari server nama mendapatkan sebuah pendaftaran di zona induk,
para programmer jaringan komputer menamakannya sebuah glue record.
DNS dalam praktik
Ketika sebuah aplikasi (misalkan web
broswer), hendak mencari alamat IP dari sebuah nama domain, aplikasi tersebut
tidak harus mengikuti seluruh langkah yang disebutkan dalam teori di
atas. Kita akan melihat dulu konsep caching, lalu mengertikan operasi
DNS di "dunia nyata".
Caching dan masa hidup (caching
and time to live)
Karena jumlah permintaan yang besar
dari sistem seperti DNS, perancang DNS menginginkan penyediaan mekanisme yang
bisa mengurangi beban dari masing-masing server DNS. Rencana mekanisnya
menyarankan bahwa ketika sebuah DNS resolver (klien) menerima sebuah
jawaban DNS, informasi tersebut akan di cache untuk jangka
waktu tertentu. Sebuah nilai (yang di-set oleh administrator dari server DNS
yang memberikan jawaban) menyebutnya sebagai time to live (masa hidup), atau TTL yang
mendefinisikan periode tersebut. Saat jawaban masuk ke dalam cache, resolver
akan mengacu kepada jawaban yang disimpan di cache tersebut; hanya
ketika TTL usai (atau saat administrator mengosongkan jawaban dari memori resolver
secara manual) maka resolver menghubungi server DNS untuk informasi yang
sama.
Waktu propagasi (propagation time)
Satu akibat penting dari arsitektur
tersebar dan cache adalah perubahan kepada suatu DNS tidak selalu
efektif secara langsung dalam skala besar/global. Contoh berikut mungkin akan
menjelaskannya: Jika seorang administrator telah mengatur TTL selama 6 jam untuk
host www.wikipedia.org, kemudian mengganti alamat IP dari www.wikipedia.org
pada pk 12:01, administrator harus mempertimbangkan bahwa ada (paling tidak)
satu individu yang menyimpan cache jawaban dengan nilai lama pada pk
12:00 yang tidak akan menghubungi server DNS sampai dengan pk 18:00. Periode
antara pk 12:00 dan pk 18:00 dalam contoh ini disebut sebagai waktu propagasi (propagation time),
yang bisa didefiniskan sebagai periode waktu yang berawal antara saat terjadi
perubahan dari data DNS, dan berakhir sesudah waktu maksimum yang telah
ditentukan oleh TTL berlalu. Ini akan
mengarahkan kepada pertimbangan logis yang penting ketika membuat perubahan
kepada DNS: tidak semua akan melihat hal yang sama seperti yang Anda lihat.
RFC1537 dapat membantu penjelasan
ini.
DNS di dunia nyata
Di
dunia nyata, user tidak berhadapan langsung dengan DNS resolver - mereka
berhadapan dengan program seperti web brower
(Mozilla
Firefox, Safari, Opera, Internet
Explorer, Netscape, Konqueror
dan lain-lain dan klien mail (Outlook Express, Mozilla Thunderbird dan lain-lain). Ketika user
melakukan aktivitas yang meminta pencarian DNS (umumnya, nyaris semua aktivitas
yang menggunakan Internet), program tersebut mengirimkan permintaan ke DNS
Resolver yang ada di dalam sistem
operasi.
DNS
resolver akan
selalu memiliki cache yang memiliki isi pencarian terakhir. Jika cache
dapat memberikan jawaban kepada permintaan DNS, resolver akan
menggunakan nilai yang ada di dalam cache kepada program yang
memerlukan. Kalau cache tidak memiliki jawabannya, resolver akan
mengirimkan permintaan ke server DNS tertentu. Untuk kebanyakan pengguna di
rumah, Internet Service Provider(ISP) yang
menghubungkan komputer tersebut biasanya akan menyediakan server DNS: pengguna
tersebut akan mendata alamat server secara manual atau menggunakan DHCP untuk melakukan
pendataan tersebut. Namun jika administrator sistem / pengguna telah
mengkonfigurasi sistem untuk menggunakan server DNS selain yang diberikan
secara default oleh ISP misalnya seperti Google Public
DNS ataupun OpenDNS, maka DNS resolver akan mengacu ke DNS server
yang sudah ditentukan. Server nama ini akan mengikuti proses yang disebutkan di
Teori DNS, baik mereka menemukan jawabannya maupun tidak. Hasil
pencarian akan diberikan kepada DNS resolver; diasumsikan telah
ditemukan jawaban, resolver akan menyimpan hasilnya di cache
untuk penggunaan berikutnya, dan memberikan hasilnya kepada software yang
meminta pencarian DNS tersebut.
Sebagai
bagian akhir dari kerumitan ini, beberapa aplikasi seperti web browser
juga memiliki DNS cache mereka sendiri, tujuannya adalah untuk
mengurangi penggunaan referensi DNS resolver, yang akan meningkatkan
kesulitan untuk melakukan debug DNS, yang menimbulkan kerancuan data yang lebih
akurat. Cache seperti ini umumnya memiliki masa yang singkat dalam
hitungan 1 menit.
Penerapan DNS lainnya
Sistem yang dijabarkan di atas
memberikan skenario yang disederhanakan. DNS meliputi beberapa fungsi lainnya:
§ Nama host dan alamat IP tidak
berarti terhubung secara satu-banding-satu. Banyak nama host yang diwakili
melalui alamat IP tunggal: gabungan dengan pengasuhan maya (virtual
hosting),
hal ini memungkinkan satu komputer untuk malayani beberapa situs web. Selain
itu, sebuah nama host dapat mewakili beberapa alamat IP: ini akan membantu
toleransi kesalahan (fault tolerance dan
penyebaran beban (load distribution), juga membantu suatu situs
berpindah dari satu lokasi fisik ke lokasi fisik lainnya secara mudah.
§ Ada cukup banyak kegunaan DNS selain
menerjemahkan nama ke alamat IP. Contoh:, agen pemindahan surat Mail transfer agents(MTA) menggunakan DNS untuk
mencari tujuan pengiriman E-mail untuk alamat tertentu. Domain yang menginformasikan
pemetaan exchange disediakan melalui rekod MX (MX record) yang
meningkatkan lapisan tambahan untuk toleransi kesalahan dan penyebaran beban
selain dari fungsi pemetaan nama ke alamat IP.
§ Kerangka Peraturan Pengiriman (Sender Policy
Framework) secara kontroversi menggunakan keuntungan jenis rekod
DNS, dikenal sebagai rekod TXT.
§ Menyediakan keluwesan untuk
kegagalan komputer, beberapa server DNS memberikan perlindungan untuk setiap
domain. Tepatnya, tigabelas server akar (root servers) digunakan oleh
seluruh dunia. Program DNS maupun sistem operasi memiliki alamat IP dari
seluruh server ini. Amerika Serikat memiliki, secara angka, semua kecuali tiga
dari server akar tersebut. Namun, dikarenakan banyak server akar menerapkan anycast, yang memungkinkan
beberapa komputer yang berbeda dapat berbagi alamat IP yang sama untuk
mengirimkan satu jenis services melalui area geografis yang luas, banyak
server yang secara fisik (bukan sekedar angka) terletak di luar Amerika
Serikat.
DNS
menggunanakn TCP dan UDP di port komputer 53 untuk melayani
permintaan DNS. Nyaris semua permintaan DNS berisi permintaan UDP tunggal dari
klien yang dikuti oleh jawaban UDP tunggal dari server. Umumnya TCP ikut
terlibat hanya ketika ukuran data jawaban melebihi 512 byte, atau untuk
pertukaaran zona DNS zone transfer.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar